Hasrat saya tumbuh menggema bersamaan dengan dikeluarkannya ultimatum untuk segera mengumpulkan tugas besar Operational Research. Tepat jam 11 malam, tugas itu berhasil diselesaikan.

Jam 12 malam, tiba lah saya di sebuah asrama di daerah Tubagus Ismail, tempat kami (relawan) berkumpul untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan ke empat daerah pelosok di Garut.

Jam 3 dinihari, setelah melalui tidur singkat, saya terbangun dan bersiap untuk menyantap makanan sahur. Tepat satu jam setelahnya, saya masih belum tahu akan ditempatkan di daerah mana. Pilihannya ada empat: Rancabuaya, Bayongbong, Cikajang, dan Selaawi. Akhirnya, muncul nama Bayongbong yang nantinya akan banyak saya ceritakan tentangnya di catatan kelima ini.

Bayongbong adalah sebuah kecamatan yang terletak di kaki Gunung Cikuray, tepat di dalamnya terdapat sebuah desa bernama Baruear. Profesi utama penduduknya adalah berkebun dan beternak. Menariknya, desa ini terbagi atas dua wilayah. Masing-masing disebut tonggoh yang berarti daerah atas dan lebak yang berarti daerah bawah. Hal itu dikarenakan kontur desa yang miring sehingga tercetuslah sebutan tersebut.

Jam 10 pagi, angkot yang membawa sepuluh relawan dari Bandung berhasil menepi di Baruear setelah sebelumnya sempat tersesat. Dua jam terbuang sia-sia. Schedule pun dirombak.

Oh iya, sebagai prolog, izinkan saya bercerita latar belakang diadakannya acara ini. Acara ini digagas oleh Yayasan Senyum Indonesia, sebuah yayasan yang bergerak pada bidang sosial kemasyarakatan. Adapun Yayasan Senyum Indonesia ini terdiri atas anak-anak asrama dan relawan-relawan yang berasal dari kampus-kampus yang ada di Kota Bandung. Pada dasarnya, acara ini menitikberatkan pada kegiatan bakti sosial untuk yatim dan dhuafa di daerah yang terbilang cukup pelosok. Desa sasaran dipilih tanpa teknik social mapping dan survei terlebih dahulu, keren bukan? Kemudian mata acara yang telah dirumuskan pun belum melalui proses perundingan dengan stakeholderdesa. Atau dengan kata lain, penduduk desa belum tau kalau kami akan melakukan kegiatan di desa tersebut. Lantas datang saat hari-H dan bermusyarah dengan stakeholder desa adalah suatu kewajiban yang harus dilakukan untuk menopang keberlangsungan acara ini.

*****

Sampailah pada diskusi perombakan schedule. Terpaksa, acara lomba masak makanan berbuka harus dihapuskan.

Tiga orang dari kami berusaha mencari Pak RW, namun dari informasi yang didapat, Pak RW masih sibuk berkebun. Sehingga musyawarah dengan stakeholder terkait harus ditunda sampai Pak RW selesai berkebun.

Sembari menunggu Pak RW datang, mengelilingi desa adalah hal yang menyenangkan untuk melepas kegabutan. Dalam perjalanan, seringkali ditemukan anjing liar sehingga kami pun terpaksa mengusirnya. Kami keliling untuk mencari tiap anak kecil di desa ini. Mulai dari sekumpulan anak kecil yang sedang bermain petasan, kelereng, atau bahkan yang sedang jalan-jalan ga jelas kami ajak untuk bermain games bersama. Awalnya mereka tampak ragu untuk mempercayai kami. Karena bagi mereka, kami seperti orang asing yang tiba-tiba muncul dihadapan mereka. Namun, dengan bermodalkan snack-snack yang dibungkus rapih sepertinya cukup untuk membuat mereka percaya dengan kami. *nyengir*

Sekitar dua puluhan anak berkumpul di suatu halaman depan rumah milik salah seorang warga. Kami berkenalan dan bermain dengan gembira. Secepat itu anak-anak mulai akrab, tampaknya tidak ada jurang pemisah diantara kami.

 

Langkah Awal

*****

Tak terasa sejam berlalu bersama anak-anak, waktu zuhur pun tiba, kami bergegas ke masjid terdekat. Sebagian besar dari mereka ikut pula ke masjid. Selesainya kami ditemui Pak Oket, seorang pak RW yang sekaligus sangat berjasa bagi kami selama di Baruear. Usianya sekitar 60 tahun, namun fisiknya masih segar. Rumah beliau ini yang nantinya relawan (laki-laki) jadikan tempat menginap selama semalam. Sedangkan rumah anaknya, Bu Iim, akan dijadikan tempat relawan perempuannya menginap.

Musyawarah berlangsung penuh canda tawa, ternyata Pak Oket ini orang yang humoris. Kami jelaskan maksud kedatangan kami dan acara-acara yang akan kami lakukan selama dua hari. Tanpa basa-basi dan penuh banyak pertimbangan, Pak Oket mengizinkan dan bersedia menjadi mediator kami nantinya dengan warga desa.

Sebagai langkah awal, permintaan kami dituruti oleh Pak Oket, yaitu me-list siapa saja anak yatim dan jompo di desa ini. Begitu musyawarah selesai, 23 paket sembako untuk jompo titipan dari Rumah Zakat dan dua pack Al-Quran wakaf yang dititipkan oleh Badan Wakaf Al-Quran berbondong-bondong kami turunkan dari angkot untuk segera disusun di sebuah ruangan di rumah Pak Oket. Lagi-lagi, kegiatan kita dibantu oleh anak-anak kecil tadi. Awal perkenalan tadi sepertinya sudah cukup membangun impresi yang bagus bagi mereka.

*****

Sebagai sisipan catatan ini, izinkan saya memperkenalkan teman kecil saya, saudara kita semua, yang menjadi perhatian khusus pada kegiatan ini. Namanya Permana, seorang anak yang duduk di kelas 5 SD. Permana adalah seorang anak yatim-piatu. Ditinggal seorang ayah yang meninggal kecelakaan tatkala sang ayah sedang mencari nafkah di Bandung. Setelahnya, sang ibu pun menyusul terseret arus sungai ketika hendak pulang dari berkebun. Sampai sekarang jenazah sang ibu tak kunjung ditemukan. Permana sekarang tinggal bersama kakek, nenek, dan adiknya yang belum sekolah. Untuk memenuhi kebutuhan berempat, sang kakek berkebun dari pagi hingga sore dengan upah 30.000 rupiah per hari. Sedangkan Permana membantu sebisanya, kadang menjadi pemetik alpukat, pemulung sayuran sisa panen atau menjalani pekerjaan yang digarap guru ngaji di desanya. Segala keterbatasan yang ada tak menjadikan hidup Permana semrawut, justru tampak sekali kedewasaan dan kemandirian dalam pribadi bocah mungil itu.

 

Permana dan Keluarga

Kami pun mejumpai Permana di rumahnya. Rumah sederhana yang berdiri kokoh di tengah lahan yang di sekelilingnya ditumbuhi pohon dan semak — bisa dibilang hutan walau ga terlalu hutan banget. Rumah tersebut merupakan bantuan dari pemerintah. Tak jauh dari rumahnya, terpadat pula sebuah kandang kambing punya tetangga yang diurus oleh kakeknya.

Kami masuk kemudian berkenalan. Saat itu kakeknya tak ada di rumah karena masih berkebun. Dengan segala kelembutan, kami dipersilahkan masuk oleh sang nenek, kemudian terjadilah percakapan hangat diantara kami. Tentang kehidupan Permana dan adiknya, tentang segala hal yang dirasa bisa ditelaah tanpa mengusik dan menyinggung segala hal yang berbau ayah dan ibunya. Karena, kami tidak mau melihat rona kesedihan di wajah Permana ketika mendengar segala hal tentang kedua orang tuanya. Puncaknya, diberikanlah dua paket sembako untuk keluarga Permana. Bagi saya, kebahagiaan sesungguhnya dapat diperoleh dengan banyak cara. Namun, apabila kita bisa membuat orang lain bahagia — salah satunya dapat diperoleh dengan saling berinteraksi, berbagi, dll — maka sesungguhnya kalian akan jauh lebih bahagia darinya.

*****

Waktu ashar tiba, dan tiba pula kegiatan mengaji anak-anak desa. Kami para lelaki menuju suatu madrasah tempat mereka mengaji yang sekaligus digunakan sebagai balai desa untuk mempersiapkan kegiatan buka puasa bersama, sedangkan yang perempuan menuju pasar—dilanjutkan dengan memasak di salah satu rumah warga — untuk memenuhi kebutuhan berbuka.

Menuju waktu maghrib, madrasah sudah ramai. Anak-anak, remaja, bapak-bapak dan sedikit ibu-ibu terlihat memenuhi ruangan. Acara dibuka dengan hikmat, lantunan ayat suci Al-Quran dibacakan oleh perwakilan relawan. Pak Ustadz setempat setempat memberikan tausiyah tentang pentingnya pendidikan, anak-anak maupun remaja dengan antusias mendengarkan. Setelahnya dilakukan penyerahan Al-Quran wakaf dan berbuka puasa bersama. Acara berlangsung tertib dan syahdu. Pun menu berbuka hari itu hanyalah makanan-makanan seadanya yang mudah dan tak memakan waktu banyak ketika hendak dimasak. Sederhana, namun terasa nikmat kala itu sebab saya merasa mereka (para warga) seperti keluarga saya sendiri. Itu pun yang menjadi obat kangen saya dengan keluarga di rumah.

Begitu pula ketika melihat Permana makan — sangat lahap. Yang saya yakin, makan nasi dengan bihun, telur balado, dan kerupuk mungkin saja makanan yang begitu mewah bagi Permana.

Sudahkah kita bersyukur akan hal ini?

 

Ifthar bersama warga desa

Selesai ifthar, yang laki-laki melepas lelah sebentar di rumah Pak Oket, di sana disediakan pula suguhan pengganjal perut untuk kami. Sungguh baik Pak Oket. Malam tarawih datang, dari tonggoh kami menuju lebak. Acara kami selanjutnya berupa pesantren kilat yang akan dilaksanakan di masjidlebak. Awal-awal dilaksanakan Sholat Isya berjamaah dan kemudian dilanjutkan dengan tarawih. Dengan izin yang sama seperti acara buka puasa bersama, dilakukan pula penyerahan Al-Quran wakaf untuk masjid tersebut.

Mata acara berikutnya adalah pesantren kilat untuk anak-anak. Mulanya kami memberikan game tanya jawab dengan materi seputar keagamaan. Siapa yang bisa jawab dan benar akan diberikan hadiah beng-beng. Ada satu jawaban yang membuat saya ngakak, pertanyaannya seperti ini: “Di manakah kiblat umat Islam?” kemudian salah seorang tunjuk tangan dan menjawab “Di lebaaaaaaaaak.” Sontak semua yang ada di masjid tertawa mendengar jawabannya.

Kemudian dilanjutkan ke mata acara inti tentang muhasabah. Mereka dipersilakan untuk menutup matanya dengan kain, kemudian para relawan menampilkan sebuah drama tentang anak durhaka yang kemudian di tinggal ibunya yang sangat sayang kepadanya. Acara berlangsung sangat dramatis karena disuguhi backsound yang sangat melankolis. Relawan yang tergabung dalam narasi drama sangat tampil menghayati. Keadaan itu membuat anak-anak banyak yang meneteskan air mata, tak jarang dari mereka yang terbawa pada suasana. Ada pula yang sehabis acara berlangsung langsung memeluk erat orangtuanya. Namanya Sarah, dan kedua adiknya Faqih dan Ilham. Tak punya Ibu, membuatnya seakan sedih dengan drama yang ditampilkan. Ditandai dengan langsung dipeluknya sang ayah ketika mereka dipersilakan membuka mata.

*****

Malam itu dingin sekali di desa Baruear, terlihat dari embun yang keluar tiap kali kita meng-hah-kan ke udara. Apa yang sudah kami lakukan di hari pertama tak mematahkan semangat kami untuk terus menebar kebaikan — dan semoga seterusnya.

Keesokannya, berkat jerih payah kepedulian Pak Oket terhadap warganya, berhasilah dikumpulkan anak-anak yatim di madrasah. Kemudian dilakukan pendataan ulang dan berangkatlah kami menemani sekitar 20an anak yatim untuk belanja baju lebaran di pasar. Dengan menggunakan angkot dan kolbak, kami pun berangkat.

 

Sesaat sebelum berangkat ke pasar

 

Menuju pasar

Dari 10 relawan dibagi menjadi lima kelompok. Saya berdua dengan Nugi memegang kendali atas empat anak. Mereka dengan sukacita bebas memilih apa yang mereka mau, tentu dengan dibatasi jumlah nominal maksimalnya. Dari baju, celana, sendal, jaket, dan tas diboyong oleh anak-anak dari kelompok kami. Terlihat raut ekspresi bahagia terpancar dari wajah mereka.

Tak butuh waktu istirahat setelah berjalan kaki menemani anak-anak berkeliling pasar, kami langsung ke mata acara selanjutnya — tebar paket sembako untuk jompo. Bersama Nugi, kami berdua menuju ke rumah jompo yang telah direkomendasikan sebelumnya oleh Pak Oket. Kami ditugasi menuju tiga rumah jompo. Sedangkan kelompok yang lain berpencar ke rumah jompo lainnya.

Yang ingin saya kisahkan berikutnya ialah Bu Yayah. Sesaat sampai rumah beliau, saya ketuk pintu dan ucapkan salam. Namun tak kunjung ada jawaban. Ketika saya menoleh ke arah jendela, terlihat Bu Yayah yang sedang menjahit, padahal jarak Bu Yayah dari pintu hanya berkisar satu meter. Saya berpikir, “Apa Bu Yayah terlalu fokus sama kegiatan menjahitnya ya sehingga salam saya tak dihiraukan.”

Beberapa saat kemudian, datang lah seorang tetangga Bu Yayah. Mereka menyuruh saya untuk masuk dan memoles Bu Yayah. Ternyata, itu cara satu-satunya yang membuat Bu Yayah menoleh. Wajar saja, ternyata Bu Yayah ini penderita presbikusis. Fungsi pendengarannya telah menurun diikuti usianya yang semakin tua sehingga untuk berkomunikasi dengannya pun saya harus menulis di hp kemudian menunjukkannya ke beliau.

Mata beliau berkaca-kaca ketika dikunjungi kami. Pun karena Bu Yayah hidup sebatang kara di rumah beralaskan kayu dan berdinding anyaman kulit bambu. Karena mungkin selama ini, Bu Yayah tak pernah dikunjungi oleh sanak saudaranya. Yang saya pun tak tahu ke mana keluarganya yang lain.

 

Teman saya dengan salah satu jompo (bukan Bu Yayah)

*****

Deras hujan turun mematahkan keheningan Desa Baruear. Di penghujung acara, sesuai dengan janji kami dengan anak-anak desa di pertemuan awal. Kami akan kembali bermain dengan mereka. Game penutup sekaligus pemberian hadiah kepada mereka yang juara 1, dan hadiah kecil-kecilan kepada mereka yang turut berpartisipasi dengan games yang kami adakan. Suasana benar-benar pecah, hujan hanya menyisakan gerimis kecil yang terjadi tatkala semangat mereka masih berapi-api untuk bermain “kepala-ekor.”

Puasa tak menjadikan alasan untuk lemas. Bahkan ada satu grup yang isinya cewe semua berhasil melangkah ke babak final, luar biasa.

Kebersamaan kami harus terhenti begitu saja karena sudah waktunya untuk pulang. Sebelum pulang, Pak Oket bersama jajarannya mengadakan perpisahan kecil yang membuat kami terkejut sekaligus sedih ketika harus tahu bahwa kami harus meninggalkan keseruan bersama mereka. Bagaimana tidak, setelah game berakhir, anak-anak, remaja, dan para warga lainnya membentuk lingkaran bersama kami. Kami berdoa bersama. Dilanjutkan dengan dengan menyanyikan senandung perpisahan dengan bahasa setempat. Sangat sedih ketika harus mengingatnya. Dan terakhir, dibacakan puisi untuk para relawan dari ananda Sarah. Lagi-lagi, air mata kami tumpah tak dapat disembunyikan. Haru bercampur bahagia adalah perasaan terakhir yang menyelimuti saya kala itu.

Terakhir, kami semua pun berpamitan dengan warga setempat. Tak lupa kepada Pak Oket yang sudah sangat berjasa bagi kami, beliau ini adalah contoh teladan untuk kita semua. Dorongan akan kepedulian terhadap warganya tak menyurutkan beliau untuk membantu kami selama berada di sana. Segala hal yang kami butuhkan, termasuk data-data jompo dan yatim, beliau sediakan dengan sangat cermat. Beliau sangat kenal dengan warga-warganya dari A sampai Z. Sungguh sosok pribadi yang patut ditiru.

 

Inilah sosok Pak Oket, diakhir pertemuan dengannya

Jam lima sore angkot kembali berpacu menuju Bandung, menyisakan berjuta kenangan yang akan membawa saya terus aktif dalam berkegiatan di bidang sosial kemasyarakatan. Terimakasih untuk pelajaran hidup selama dua harinya.

Diakhir catatan, masih penasaran kan kenapa bisa dapat desa yang tepat sasaran tapi kami pun belum pernah survei sebelumnya? Nantikan jawabannya setelah pariwara berikut!

.

.

.

Masih kepo? 🙂

p.s: Dokumentasi diambil oleh salah satu Relawan

.

.

Ditulis di Depok selagi liburan setelah menyicil tulisan ini sekian lama,


Oleh : Muhammad Abdan Syakuron