Dari kiri : Kak Hanif, Faqih (Adik Sarah), Ilham (Adik Sarah), Sarah, Kak Dea

Malam itu, ia menangis, menangis keras sekali, menangis lama sekali.. Ia bersama 2 adiknya berlari memeluk ayahnya, satu satunya orang yang mereka miliki di rumah. Tak kukira muhasabah malam itu tentang anak durhaka membuat ia teringat akan ibundanya.
Dia Sarah, umurnya belum genap 11 tahun. Tapi, kedewasaannya jauh melebihi anak – anak seusianya. Dengan umur yang masih belia, ia harus bisa menjadi anak – anak sekaligus menjadi ibu bagi kedua adiknya, Faqih dan Ilham. Ya, kejadian setahun yang lalu, membuat ketiga saudara ini kehilangan sosok ibu di rumahnya.

Pagi itu, kami berkesempatan membawa mereka ke pasar untuk membelikannya masing – masing sebuah baju baru. Sesampainya di pasar, tak hentinya senyum merekah di wajah mereka. “Kak, dulu setiap tahun, Sarah sering beli baju disini bersama ibu”, Ucapnya dengan riang.

Beberapa kali, adiknya memilih baju yang harganya terlampau mahal. Ia dengan sopan menyingkarkan tangan adiknya itu, sembari berkata “Dek, pilih yang lain, harga baju ini terlalu mahal”. Ucapan yang sungguh keluar dari anak umur 10 tahun ini. Hingga akhirnya mereka mendapat baju yang diinginkan, wajahnya tak henti merekahkan senyum.
Siang, sehari yang lalu. Saat, permainan seru kami terhenti karena panggilan Adzan. Sarah, bergegas mengambil mukena dari rumahnya dan berlari menuju Masjid. Sarah dan kedua adiknya memang dididik supaya tetap menjaga agamanya sejak dini. Seusai sholat dhuhur, ia bersama teman – temannya mengikuti sekolah agama yang rutin setiap hari diadakan di madrasah kampungnya. Maka, tak heran, walau mereka hidup berkurangan, lantunan ayat suci mereka terdengar merdu dengan makhrojil huruf yang sangat baik untuk anak seusianya.

Matahari mulai memerah, tanda pertemuan kami dengan Sarah harus berakhir. Namun, pertemuan singkat ini ternyata amat bermakna bagi Sarah dan teman – temannya. Adalah ia yang memberikan sebuah puisi yang dibacakan di hadapan teman – temannya. Puisi yang berjudul “Terimakasih Kakak Kakakku”. Sebuah sedikit kasih yang kita berikan, teramat berharga bagi mereka untuk hanya dibalas dengan sepatah kata terima kasih.

 

Puisi Sarah
Puisi Sarah

Oleh : Muhammad Hanif Adzkiya